Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

Minggu yang Waw Bersama Rayni N. Massardi

Gambar
Feature Minggu yang Waw Oleh Nengzhr Siang ini matahari sedang mencekam. Memancarkan terik yang begitu menyengat. Menusuk siapa saja yang berjalan di kolongnya. Padahal 149.6 juta km sangat jauh jaraknya dengan bumi yang kupijak. Akan tetapi, rasanya sangat dekat dengan ubun-ubun ini.  Aku tak pernah urung diri untuk tidak pergi, karena minggu adalah selalu menjadi hari favorit yang kutunggu-tunggu. Minggu ini, 15 Oktober 2017, menjadi minggu yang paling berkesan.  Bagaimana tidak, kabar yang kudengar, ada 3 penulis hebat di Rumah Dunia dalam acara bedah bukunya.  Pukul 12.00 WIB. Aku semakin mantap melangkah walaupun matahari masih menantang di atas kepala. Tiba di tempat yang selalu aku kunjungi setiap minggu. Terlihat banyak orang telah memenuhi sudut Rumah Dunia.  Di bawah payung-payung rainbow, di depan perpustakaan, di lapangan depan auditorium, dan di semua halaman yang 'nyeni' itu. Aku pun duduk di tempat kesukaanku, di dekat pohon bambu kuning. Ketika...

Tawamu sudah mati

Tawamu sudah mati (untuk sahabat) Bayangmu memudar Raga, Apalagi rupa Sudah tak nampak Dalam hati ini. Tiada kata Tiada asa Kita sudah tak jalan Dalam kebersamaan Senyummu sudah terkubur Tawamu juga mati Nengzhr Serang, 14 okt 17

Bos Bandeng Pujaan Hati

Bos Bandeng Pujaan Hati  Oleh Nengzhr "Beh, Maya berangkat. Assalamualaikum!" Dengan singkong rebus yang memenuhi mulutnya, putri semata wayang Beh Acong pergi dengan tergesa-gesa menuju kampus. Seperti biasa, Beh Acong pun pergi ke kantornya, alias ke ternak ikan, lalu lanjut menjualnya ke pasar. Ikan favorite pilihannya adalah bernama Bandeng. Ikan Bandeng telah dipilih sejak Beh Acong pertama kali memulai karirnya berjualan di pasar. Karna rasanya yang enak, Beh Acong telah jatuh cinta pada Bandeng, itulah hingga saat ini Beh Acong masih setia dengan ikan Bandeng. Jarak dari tempat peternakan ke pasar ikan, Beh Acong harus menempuh 500 M dengan berjalan kaki, sambil memikul keranjang ikan di pundaknya. Ia pun tak pernah melepas senyum syukur. Usia yang tak lagi muda, tidak membuat Beh Acong mengurangi semangat dalam menapaki kehidupan. Walaupun hanya menjual ikan bandeng, tapi itu merupakan penyambung nafas Beh Acong dan putri satu-satunya, Maya. Keringat tak menj...