Bos Bandeng Pujaan Hati
Bos Bandeng Pujaan Hati
Oleh Nengzhr
"Beh, Maya berangkat. Assalamualaikum!" Dengan singkong rebus yang memenuhi mulutnya, putri semata wayang Beh Acong pergi dengan tergesa-gesa menuju kampus. Seperti biasa, Beh Acong pun pergi ke kantornya, alias ke ternak ikan, lalu lanjut menjualnya ke pasar. Ikan favorite pilihannya adalah bernama Bandeng. Ikan Bandeng telah dipilih sejak Beh Acong pertama kali memulai karirnya berjualan di pasar. Karna rasanya yang enak, Beh Acong telah jatuh cinta pada Bandeng, itulah hingga saat ini Beh Acong masih setia dengan ikan Bandeng. Jarak dari tempat peternakan ke pasar ikan, Beh Acong harus menempuh 500 M dengan berjalan kaki, sambil memikul keranjang ikan di pundaknya. Ia pun tak pernah melepas senyum syukur. Usia yang tak lagi muda, tidak membuat Beh Acong mengurangi semangat dalam menapaki kehidupan. Walaupun hanya menjual ikan bandeng, tapi itu merupakan penyambung nafas Beh Acong dan putri satu-satunya, Maya. Keringat tak menjadi penghambat, malah sudah menjadi sahabat. *** "Aduh Mayaaa, anak babeh paling cantik, ngapain ke siniii? Kok tumben pulangnya cepet bener?” Maya yang baru saja pulang dari kampus, mampir ke pasar dimana tempat Babehnya berjualan. "Udah sana, pulang-pulang, mening main sama buku aja sana, kerjain tugas, belajar, urusan di sinimah biar babeh aja yang ngurusin, yah." "Yeeeh, si Babeh mah, masa anaknya sendiri udah jauh-jauh ke sini malah diusir sih." Mulut kecilnya menggerutu terlihat kesel. "Ya bukan gitu atuh. Yauda kalo gitu babeh ajadeh yang pergi, kamu yang jualan ya? hahaha." Ketika Babeh berbalik badan... 'Gubrakkk!' "Yaampun Babeh." Dengan cepat Maya menangkap Babehnya yang tiba-tiba jatuh. “Beeeh, beh bangun, jangan bercanda ah, gak lucu tau, beh apa apaan sih, malu banyak orang beh. Banguuun!” Raut bingung juga khawatir ada pada wajah Maya, ia pun berteriak minta tolong. Orang-orang yang sedang transaksi jual beli pun langsung menghampiri Beh Acong yang telah tergeletak di tanah. Beh Acong pun segera dibawa ke puskesmas. *** "Ayah kamu hanya kecapean saja, untuk saat ini ia harus istirahat penuh selama satu minggu, agar tubuhnya pulih kembali." Kata dokter yang tengah menjelaskan kondisi Beh Acong. "Baik dok, terimakasih banyak." "Aduh beeh, babeh ni ada-ada aja sih ah. Bikin Maya khawatir tau. Makanya babeh tuh kalo kerja pake perasaan, jangan diporsir gitu, kan gabaik buat kesehatan.” “Aih aih kok babeh malah diomelin sih. Lagian orang babeh gapapa ah, tuh liat uhh masih kuat kan?” Sambil bercanda babeh menunjukan otot di tangannya, walaupun wajah pucatnya tak bisa disembunyikan. “Aaa, pokoknya mulai besok babeh gaboleh kerja ya! Babeh harus istirahat, gaboleh cape-capean lagi. Maya gamau babeh kenapa-napa. Biar Maya yang gantiin babeh jualan.” “iiiih, atuh jangan, kamu mah fokus aja kuliah, anak babeh gaboleh kaya babeh, jadi penjual ikan doang. Kan udah babeh bilang, urusan dagang mah biar babeh aja.” “Jangan bandel atuh beh, dibilanginnya babeh teh kudu istirahat. Lagian mau Maya jadi pedagang ikan kek, apa kek, yang pentingmah halal. Dan yang paling penting lagi, Maya gamau babeh kenapa-napa. Pokoknya kali ini babeh yang harus nurut sama Maya titik.” *** Matahari cerah menyapa. Secerah wajah Maya yang sudah siap bekerja. Dengan membawa keranjang yang biasa babeh gunakan, Maya berjalan menuju peternakan ikan. Bau amis yang menyengat telah menyambut kedatangan Maya. Spontan Maya langsung menutup hidung dan mengernyitkan dahi tanda tak tahan. Terlihat banyak orang juga yang membawa keranjang untuk diisi ikan. Romi, pemilik peternakan tersebut, adalah pemuda tampan lulusan universitas jurusan perikanan di Jakarta. Ayahnya yang telah tiada membuat Romi terpaksa pulang ke desa dan harus meneruskan bisnis ternak ikan warisan ayahnya itu. “Permisi, saya mau ngambil jatah ikan bandeng. Babeh saya sedang sakit, jadi mungkin untuk semantara waktu saya yang akan menggantikan posisinya.” Romi yang sedang berdiri memberi makan ikan-ikan di kolam dengan cepat menoleh pada asal suara itu. Seketika pandangan matanya bertabrakan. Nampaknya Romi terpana pada paras cantik Maya. Seketika keduanya bertatapan. Untung cipratan ikan di kolam akhirnya menyadarkan mereka, lalu keduanya menundukkan pandangan. “Oh, ya, silahkan.” Sahutnya. Namun Maya hanya terdiam. Disamping gugup, ia juga masih bingung apa yang harus dilakukan. “Mm, sini.” Dengan pengertian Romi mengambil keranjang yang sedang dipegang Maya, lalu diisinya dengan ikan-ikan bandeng. “Ini mau dibawa ke pasar? Emangnya bisa?” Tanya Romi tak yakin. Maya hanya menganggukkan kepala tanda meng-iya-kan. “Biar saya bantu.” Tanpa ingin mendengar jawaban dari Maya, Romi pun langsung berjalan dengan memikul keranjang ikan di pundaknya. “Aih, ngga usah mas.” Maya pun mengejar ke arah Romi. Romi terus saja berjalan. “Makasih banyak loh mas, tadi udah diambilin ikannya, sekarang malah dibawain. Saya jadi ga enak.” Lagi-lagi Romi tak menyahut dan terus berjalan menuju pasar. Begitu pun hari-hari berikutnya. Romi selalu membantu Maya seperti kali pertama membantunya. Dengan tanpa banyak berkomunikasi ternyata keduanya menyimpan rasa yang sama. Maya kagum pada Romi yang bijaksana dan pengertian. Begitu pun Romi yang tertarik pada Maya yang cantik, tidak manja dan tidak gengsi walau pun harus menggantikan pekerjaan babehnya di pasar. Perasaan cintanya pada Romi semakin hari semakin bertambah. Lagi-lagi hingga saat ini Maya hanya bisa menyembunyikan perasaannya itu. Walau pun rindu selalu datang mengusik malam, namun esoknya selalu cepat terobati. Karena hari-hari Maya selalu ada Romi walaupun hanya sekedar mengantarkan ikan ke pasar. Suatu hari, tak ada Romi di peternakan itu. Kabarnya, Romi sedang berada di Jakarta karna ada suatu urusan. Maya terpaksa harus membawa ikan itu sendirian ke pasar. Walau pun sebelumnya ada tawaran bantuan dari Mang Dedi-pembantu Romi yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri- untuk membawakan keranjang ikan itu, namun Maya memilih untuk mengerjakannya sendiri. Kali ini Maya benar merasakan betapa lelah pekerjaan babehnya tersebut. Namun ia tak boleh lemah. Esoknya... Ketika Maya hendak mengambil ikan di peternakan seperti biasa, ada seorang perempuan berpenampilan kekota-an turun dari mobil. Sangat cantik. Langkahnya kemudian diikuti Romi di belakangnya. Dengan cepat Maya memalingkan muka dan kembali pada ikan-ikannya. “Maaf kemarin tidak bisa membantu, tapi saya sudah menyuruh Mang Dedi buat bantu kamu.” Sahut Romi menghampiri Maya. “Iya gapapa.“ Setelah mendengar jawaban Maya, Romi pun langsung masuk ke dalam rumahnya yang tak jauh dari tempat ternak ikan tersebut. “Wah ini siapa? Kenalin, aku Rouse, temen... eh bukan, emmmm calonnya Romi.” Dengan menyuguhkan tangan ia memperkenalkan dirinya. “Saya Maya.” Rouse pun tak menghiraukan ucapan Maya, ia lantas pergi menyusul Romi. Sesak teramat dalam membanjiri ruang hati Maya. Tak bisa dipungkiri, Maya sangat cemburu. Walau pun ia tak berhak merasakan itu, tapi memang begitulah yang sedang melanda hatinya. Pria yang selama ini menjadi pujaan hati, mulai detik itu sudah mati. Sakitnya begitu dalam. Sesaknya mengiris dada. Perasaannya hancur berkeping-keping. Maya pun langsung pergi dari tempat peternakan itu dan berniat untuk tidak akan pernah kembali. *** Maya tak pernah menceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hatinya kepada Babehnya. Maya hanya bilang bahwa ia tak ingin ke tempat itu lagi. Beh Acong bingung kenapa tiba-tiba saja Maya mengambil keputusan tersebut, padahal hari-hari sebelumnya Maya selalu semangat. Yang lebih membingungkan adalah ketika Babeh akan memulai kembali pekerjaannya seperti dulu, Maya malah masih melarang itu. Semakin bingung Babeh menghadapi ini. “Lha terus kita mau makan apaaa kalo babeh atau kamu ga kerja? Hah? Udah hampir satu minggu kamu gini terus, keluar kamar cuma makan, setelah itu masuk kamar lagi. Keluar lagi, masuk lagi. Gitu-gitu terus. Gapernah keluar rumah. Kamu juga lupa sama kuliah. Lagian putri Babeh ini kenapa sih? Gabisa dong kalo ngandelin uang tabungan kamu aja buat makan kita sehari-hari. Babeh harus kerja.” Maya hanya diam. Ketika ia akan masuk kamar lagi, terdengar suara rebana diiringi shalawat ramai di depan rumahnya. Maya dan Babeh pun menghampiri itu. Terlihat kaum bapak yang sedang memainkan rebana juga ibu-ibu yang membawakan parsel berisi makanan variasi ikan bandeng. Ada sate bandeng, pecak bandeng, bandeng bakar, dan segala makanan tema bandeng. Maya bingung. Babeh juga. “Ada apaan nih?” Suara Beh Acong menghentikan pukulan rebbana itu. Seketika pasukan rebbana bergerak membuat formasi membuka barisan. Tiba-tiba muncul ditengah formasi itu seseorang yang sudah tak asing lagi wajahnya di mata Maya. Maya pun terkejut melihatnya. Dengan gagah nan tampan bak pangeran, Romi berjalan ke arah beh Acong. “Assalamualaikum. Beh, perkenankan saya meminang putri tercantik Babeh satu-satunya yang bernama Maya.” Sambil membungkukkan badan memberi hormat, Romi membukakan sebuah cincin tanda mengkhitbah sang putri semata wayang. Semakin terkejut maya menyaksikan adegan itu. “Maksudnya apa? Bukannya Rouse itu calon kamu ya? Maya gak mau beh. Maya pasti Cuma jadi pelampiasannya mas Romi doang!” Romi pun lekas berdiri. Maya malah mendapati ketawa kecil Romi. “Maksud kamu dia?” Romi menunjuk ke arah Rouse yang rupanya telah ada di barisan ibu-ibu yang memegang parsel. “Teh Maya, aku ini adiknya kak Romi, Hihi. Waktu itu aku sengaja ngaku-ngaku jadi calonnya kak Romi, aku cuma mau jailin aja, cuma mau bikin Teh Maya cemburu, hehe maaf yaaa. Aku ni sengaja loh pulang ke Indonesia karena kak Romi bilang mau melamar teh Maya. Masa aku udah jauh-jauh ke sini Teh Maya mau nolak sih?” Mukanya yang memelas diiringi cemberut, Rouse terlihat lucu. Beling-beling yang telah terpecah seketika tersusun kembali. Api yang telah padam itu ternyata nyala lagi. Keresahan Maya selama ini telah terobati. Maya pun menoleh ke arah Babehnya. Beh Acong memberi isyarat dengan harapan penuh agar Maya menerima Romi. Dengan senyum dan tersipu Maya pun lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju. Akhirnya babeh menerima cincin itu dan dipasangkanlah kepada putrinya. Romi pun terlihat sangat bahagia. Begitu pula Maya. *** Maya tak menyangka, laki-laki yang selama ini menghantui hati kini telah ada di sampingnya. Wanita yang selama ini menjadi pujaan Romi pun ternyata adalah tulang rusuknya. Mereka pun telah bersatu dalam ikatan halal. Kini, beh Acong telah naik jabatan. Ia bukan lagi hanya penjual ikan bandeng di pasar, melainkan menjadi pemilik ternak ikan yang sangat luas. Romi dan Maya juga telah membuka rumah makan spesial bandeng yang memiliki banyak cabang di Indonesia. Ya, spesial bandeng. Lagi-lagi bandeng yang dipilih, karena bandeng telah mempertemukan mereka.
Oleh Nengzhr
"Beh, Maya berangkat. Assalamualaikum!" Dengan singkong rebus yang memenuhi mulutnya, putri semata wayang Beh Acong pergi dengan tergesa-gesa menuju kampus. Seperti biasa, Beh Acong pun pergi ke kantornya, alias ke ternak ikan, lalu lanjut menjualnya ke pasar. Ikan favorite pilihannya adalah bernama Bandeng. Ikan Bandeng telah dipilih sejak Beh Acong pertama kali memulai karirnya berjualan di pasar. Karna rasanya yang enak, Beh Acong telah jatuh cinta pada Bandeng, itulah hingga saat ini Beh Acong masih setia dengan ikan Bandeng. Jarak dari tempat peternakan ke pasar ikan, Beh Acong harus menempuh 500 M dengan berjalan kaki, sambil memikul keranjang ikan di pundaknya. Ia pun tak pernah melepas senyum syukur. Usia yang tak lagi muda, tidak membuat Beh Acong mengurangi semangat dalam menapaki kehidupan. Walaupun hanya menjual ikan bandeng, tapi itu merupakan penyambung nafas Beh Acong dan putri satu-satunya, Maya. Keringat tak menjadi penghambat, malah sudah menjadi sahabat. *** "Aduh Mayaaa, anak babeh paling cantik, ngapain ke siniii? Kok tumben pulangnya cepet bener?” Maya yang baru saja pulang dari kampus, mampir ke pasar dimana tempat Babehnya berjualan. "Udah sana, pulang-pulang, mening main sama buku aja sana, kerjain tugas, belajar, urusan di sinimah biar babeh aja yang ngurusin, yah." "Yeeeh, si Babeh mah, masa anaknya sendiri udah jauh-jauh ke sini malah diusir sih." Mulut kecilnya menggerutu terlihat kesel. "Ya bukan gitu atuh. Yauda kalo gitu babeh ajadeh yang pergi, kamu yang jualan ya? hahaha." Ketika Babeh berbalik badan... 'Gubrakkk!' "Yaampun Babeh." Dengan cepat Maya menangkap Babehnya yang tiba-tiba jatuh. “Beeeh, beh bangun, jangan bercanda ah, gak lucu tau, beh apa apaan sih, malu banyak orang beh. Banguuun!” Raut bingung juga khawatir ada pada wajah Maya, ia pun berteriak minta tolong. Orang-orang yang sedang transaksi jual beli pun langsung menghampiri Beh Acong yang telah tergeletak di tanah. Beh Acong pun segera dibawa ke puskesmas. *** "Ayah kamu hanya kecapean saja, untuk saat ini ia harus istirahat penuh selama satu minggu, agar tubuhnya pulih kembali." Kata dokter yang tengah menjelaskan kondisi Beh Acong. "Baik dok, terimakasih banyak." "Aduh beeh, babeh ni ada-ada aja sih ah. Bikin Maya khawatir tau. Makanya babeh tuh kalo kerja pake perasaan, jangan diporsir gitu, kan gabaik buat kesehatan.” “Aih aih kok babeh malah diomelin sih. Lagian orang babeh gapapa ah, tuh liat uhh masih kuat kan?” Sambil bercanda babeh menunjukan otot di tangannya, walaupun wajah pucatnya tak bisa disembunyikan. “Aaa, pokoknya mulai besok babeh gaboleh kerja ya! Babeh harus istirahat, gaboleh cape-capean lagi. Maya gamau babeh kenapa-napa. Biar Maya yang gantiin babeh jualan.” “iiiih, atuh jangan, kamu mah fokus aja kuliah, anak babeh gaboleh kaya babeh, jadi penjual ikan doang. Kan udah babeh bilang, urusan dagang mah biar babeh aja.” “Jangan bandel atuh beh, dibilanginnya babeh teh kudu istirahat. Lagian mau Maya jadi pedagang ikan kek, apa kek, yang pentingmah halal. Dan yang paling penting lagi, Maya gamau babeh kenapa-napa. Pokoknya kali ini babeh yang harus nurut sama Maya titik.” *** Matahari cerah menyapa. Secerah wajah Maya yang sudah siap bekerja. Dengan membawa keranjang yang biasa babeh gunakan, Maya berjalan menuju peternakan ikan. Bau amis yang menyengat telah menyambut kedatangan Maya. Spontan Maya langsung menutup hidung dan mengernyitkan dahi tanda tak tahan. Terlihat banyak orang juga yang membawa keranjang untuk diisi ikan. Romi, pemilik peternakan tersebut, adalah pemuda tampan lulusan universitas jurusan perikanan di Jakarta. Ayahnya yang telah tiada membuat Romi terpaksa pulang ke desa dan harus meneruskan bisnis ternak ikan warisan ayahnya itu. “Permisi, saya mau ngambil jatah ikan bandeng. Babeh saya sedang sakit, jadi mungkin untuk semantara waktu saya yang akan menggantikan posisinya.” Romi yang sedang berdiri memberi makan ikan-ikan di kolam dengan cepat menoleh pada asal suara itu. Seketika pandangan matanya bertabrakan. Nampaknya Romi terpana pada paras cantik Maya. Seketika keduanya bertatapan. Untung cipratan ikan di kolam akhirnya menyadarkan mereka, lalu keduanya menundukkan pandangan. “Oh, ya, silahkan.” Sahutnya. Namun Maya hanya terdiam. Disamping gugup, ia juga masih bingung apa yang harus dilakukan. “Mm, sini.” Dengan pengertian Romi mengambil keranjang yang sedang dipegang Maya, lalu diisinya dengan ikan-ikan bandeng. “Ini mau dibawa ke pasar? Emangnya bisa?” Tanya Romi tak yakin. Maya hanya menganggukkan kepala tanda meng-iya-kan. “Biar saya bantu.” Tanpa ingin mendengar jawaban dari Maya, Romi pun langsung berjalan dengan memikul keranjang ikan di pundaknya. “Aih, ngga usah mas.” Maya pun mengejar ke arah Romi. Romi terus saja berjalan. “Makasih banyak loh mas, tadi udah diambilin ikannya, sekarang malah dibawain. Saya jadi ga enak.” Lagi-lagi Romi tak menyahut dan terus berjalan menuju pasar. Begitu pun hari-hari berikutnya. Romi selalu membantu Maya seperti kali pertama membantunya. Dengan tanpa banyak berkomunikasi ternyata keduanya menyimpan rasa yang sama. Maya kagum pada Romi yang bijaksana dan pengertian. Begitu pun Romi yang tertarik pada Maya yang cantik, tidak manja dan tidak gengsi walau pun harus menggantikan pekerjaan babehnya di pasar. Perasaan cintanya pada Romi semakin hari semakin bertambah. Lagi-lagi hingga saat ini Maya hanya bisa menyembunyikan perasaannya itu. Walau pun rindu selalu datang mengusik malam, namun esoknya selalu cepat terobati. Karena hari-hari Maya selalu ada Romi walaupun hanya sekedar mengantarkan ikan ke pasar. Suatu hari, tak ada Romi di peternakan itu. Kabarnya, Romi sedang berada di Jakarta karna ada suatu urusan. Maya terpaksa harus membawa ikan itu sendirian ke pasar. Walau pun sebelumnya ada tawaran bantuan dari Mang Dedi-pembantu Romi yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri- untuk membawakan keranjang ikan itu, namun Maya memilih untuk mengerjakannya sendiri. Kali ini Maya benar merasakan betapa lelah pekerjaan babehnya tersebut. Namun ia tak boleh lemah. Esoknya... Ketika Maya hendak mengambil ikan di peternakan seperti biasa, ada seorang perempuan berpenampilan kekota-an turun dari mobil. Sangat cantik. Langkahnya kemudian diikuti Romi di belakangnya. Dengan cepat Maya memalingkan muka dan kembali pada ikan-ikannya. “Maaf kemarin tidak bisa membantu, tapi saya sudah menyuruh Mang Dedi buat bantu kamu.” Sahut Romi menghampiri Maya. “Iya gapapa.“ Setelah mendengar jawaban Maya, Romi pun langsung masuk ke dalam rumahnya yang tak jauh dari tempat ternak ikan tersebut. “Wah ini siapa? Kenalin, aku Rouse, temen... eh bukan, emmmm calonnya Romi.” Dengan menyuguhkan tangan ia memperkenalkan dirinya. “Saya Maya.” Rouse pun tak menghiraukan ucapan Maya, ia lantas pergi menyusul Romi. Sesak teramat dalam membanjiri ruang hati Maya. Tak bisa dipungkiri, Maya sangat cemburu. Walau pun ia tak berhak merasakan itu, tapi memang begitulah yang sedang melanda hatinya. Pria yang selama ini menjadi pujaan hati, mulai detik itu sudah mati. Sakitnya begitu dalam. Sesaknya mengiris dada. Perasaannya hancur berkeping-keping. Maya pun langsung pergi dari tempat peternakan itu dan berniat untuk tidak akan pernah kembali. *** Maya tak pernah menceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hatinya kepada Babehnya. Maya hanya bilang bahwa ia tak ingin ke tempat itu lagi. Beh Acong bingung kenapa tiba-tiba saja Maya mengambil keputusan tersebut, padahal hari-hari sebelumnya Maya selalu semangat. Yang lebih membingungkan adalah ketika Babeh akan memulai kembali pekerjaannya seperti dulu, Maya malah masih melarang itu. Semakin bingung Babeh menghadapi ini. “Lha terus kita mau makan apaaa kalo babeh atau kamu ga kerja? Hah? Udah hampir satu minggu kamu gini terus, keluar kamar cuma makan, setelah itu masuk kamar lagi. Keluar lagi, masuk lagi. Gitu-gitu terus. Gapernah keluar rumah. Kamu juga lupa sama kuliah. Lagian putri Babeh ini kenapa sih? Gabisa dong kalo ngandelin uang tabungan kamu aja buat makan kita sehari-hari. Babeh harus kerja.” Maya hanya diam. Ketika ia akan masuk kamar lagi, terdengar suara rebana diiringi shalawat ramai di depan rumahnya. Maya dan Babeh pun menghampiri itu. Terlihat kaum bapak yang sedang memainkan rebana juga ibu-ibu yang membawakan parsel berisi makanan variasi ikan bandeng. Ada sate bandeng, pecak bandeng, bandeng bakar, dan segala makanan tema bandeng. Maya bingung. Babeh juga. “Ada apaan nih?” Suara Beh Acong menghentikan pukulan rebbana itu. Seketika pasukan rebbana bergerak membuat formasi membuka barisan. Tiba-tiba muncul ditengah formasi itu seseorang yang sudah tak asing lagi wajahnya di mata Maya. Maya pun terkejut melihatnya. Dengan gagah nan tampan bak pangeran, Romi berjalan ke arah beh Acong. “Assalamualaikum. Beh, perkenankan saya meminang putri tercantik Babeh satu-satunya yang bernama Maya.” Sambil membungkukkan badan memberi hormat, Romi membukakan sebuah cincin tanda mengkhitbah sang putri semata wayang. Semakin terkejut maya menyaksikan adegan itu. “Maksudnya apa? Bukannya Rouse itu calon kamu ya? Maya gak mau beh. Maya pasti Cuma jadi pelampiasannya mas Romi doang!” Romi pun lekas berdiri. Maya malah mendapati ketawa kecil Romi. “Maksud kamu dia?” Romi menunjuk ke arah Rouse yang rupanya telah ada di barisan ibu-ibu yang memegang parsel. “Teh Maya, aku ini adiknya kak Romi, Hihi. Waktu itu aku sengaja ngaku-ngaku jadi calonnya kak Romi, aku cuma mau jailin aja, cuma mau bikin Teh Maya cemburu, hehe maaf yaaa. Aku ni sengaja loh pulang ke Indonesia karena kak Romi bilang mau melamar teh Maya. Masa aku udah jauh-jauh ke sini Teh Maya mau nolak sih?” Mukanya yang memelas diiringi cemberut, Rouse terlihat lucu. Beling-beling yang telah terpecah seketika tersusun kembali. Api yang telah padam itu ternyata nyala lagi. Keresahan Maya selama ini telah terobati. Maya pun menoleh ke arah Babehnya. Beh Acong memberi isyarat dengan harapan penuh agar Maya menerima Romi. Dengan senyum dan tersipu Maya pun lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju. Akhirnya babeh menerima cincin itu dan dipasangkanlah kepada putrinya. Romi pun terlihat sangat bahagia. Begitu pula Maya. *** Maya tak menyangka, laki-laki yang selama ini menghantui hati kini telah ada di sampingnya. Wanita yang selama ini menjadi pujaan Romi pun ternyata adalah tulang rusuknya. Mereka pun telah bersatu dalam ikatan halal. Kini, beh Acong telah naik jabatan. Ia bukan lagi hanya penjual ikan bandeng di pasar, melainkan menjadi pemilik ternak ikan yang sangat luas. Romi dan Maya juga telah membuka rumah makan spesial bandeng yang memiliki banyak cabang di Indonesia. Ya, spesial bandeng. Lagi-lagi bandeng yang dipilih, karena bandeng telah mempertemukan mereka.
Komentar
Posting Komentar