LEMBAR EPISODE TERAKHIR

Karya Neng Zahra

Matahari membakar malam. Langit biru menghapus kelam. Awan putih menambah keindahan. Bintang saling pergi, berganti burung camar yang berlarian di atas cakrawala. Semesta menyapa, pada tanah yang sedikit basah, pada air yang masih mengalir, dan pada embun yang menginap dalam daun.
Daun masih menunjukkan keasriannya.  Tapi, sering kali angin menghantam dengan kencang. Sehingga, jatuhlah satu per satu.
“Haruskah aku marah pada takdir?”
***
Reza. Dia adalah putra terakhir dari dua bersaudara. Kakaknya bernama Robi. Mereka hanya mempunyai Ibu. Ayah telah dulu pulang sejak putranya itu masih berusia balita.
Reza baru saja menyelesaikan strata satu. Sedangkan Robi tengah berjuang menata karirnya yang telah ia bangun beberapa tahun lalu.
Sejak kecil, Robi dan Reza selalu ditanami ilmu agama oleh kedua orang tuanya. Tetapi, semenjak Ayah pulang, Ibulah satu-satunya yang menjadi madrasah utama bagi  mereka. Tidak jarang, Robi selalu memberi nasihat kepada adiknya agar selalu berbakti pada Ibu dan taat pada perintah Allah.
***
“Mbak!” Reza setengah berlari ke arah perempuan yang baru saja beranjak dari masjid kampus.
“Mbak! Tunggu...” Langkah kakinya semakin dipercepat. Lalu terhenti ketika perempuan itu telah ada di depannya.
“Eh, Laila ya? Ini dompetnya, kan? Tadi jatuh di tangga masjid.” Tangannya menyodorkan sebuah dompet berwarna biru muda. Seketika, tatapannya bertabrakan. Memadu dalam satu gelombang mengandung asmara. Pandangannya saling temu. Ada satu getaran yang tiba-tiba saja hadir di hati Reza.
Reza menepis tatapan tersebut setelah perempuan itu langsung meraih dompet yang Reza sodorkan. Ia kemudian memberi banyak ucapan terima kasih kepada Reza, lalu mengisyaratkan sebuah permisi dan meninggalkan tempat tersebut. Matanya masih terpaku, menatap langkah demi langkah perempuan itu sampai  hilang di ujung pandangannya.
***
Hingga saat ini, kedua muda itu memang selalu menjaga hati agar tidak jatuh pada lubang yang salah. Robi hanya akan membuka hati jika sudah waktunya tiba. Reza juga akan memberikan cinta hanya pada tulang rusuknya kelak.
Tapi, siapa sangka? Keduanya malah jatuh cinta disaat waktu yang sama.
"Bu, tadi di kantor ada yang melamar kerja, tapi perempuan, udah gitu pakaiannya syar’i banget.” Robi duduk di samping Ibu sembari memberikan secangkir teh hangat buatannya.
 “Robi heran aja bu, secara, sampe sejauh ini belum pernah menerima pelamar kantoran yang syar’i gitu.”
“Ciye Kak Robiii, bilang aja suka. Cepet sikat kak, ntar keburu diambil orang hahaha.” Tambah Reza meledek.
***
Cinta itu misteri. Terkadang datang tanpa diundang bahkan tak pernah diminta. Cinta juga 180 derajat bisa merubah hidup seseorang. Cinta memang tak bisa ditolak kedatangannya, namun bisa dikendalikan. Tapi, bagaimana jika tak mampu untuk mengendalikan?
Robi. Dengan berat mengakui, rupanya ia jatuh cinta pada perempuan syar’i yang melamar kerja di perusahaannya. Cinta pertamanya ini membuat Robi menjadi tidak fokus karena harus bertemu wanita itu setiap hari di kantor. Sering kali ia melamun pada saat memimpin rapat yang akhirnya menghasilkan kekacauan. Banyak proyek yang tak terselesaikan. Banyak juga pekerjaan kantor yang berantakan. Begitu luar biasanya virus cinta. Apalagi, usianya yang semakin dewasa menjadikan suatu dorongan kuat untuk ia segera menindaklanjuti perasaan yang mengganggu kesehariannya itu.
Akhirnya, dengan nada penuh keraguan dan malu-malu, Robi pun memberanikan diri untuk menyatakan kepada Ibu, bahwa Robi akan mengkhitbah perempuan syar’i itu. Sempat tersentak kaget ketika mendengar pengakuan dari putra pertamanya yang telah dewasa. Namun dengan senang hati ibu pun sangat menyetujui. Karena Ibu selalu menantikan hal ini.
Rencana akan mengunjungi orang tua wanita itu pun sungguh disegerakan. Hingga tiba saatnya, hari ini menjadi hari yang paling menegangkan bagi Robi. Dimana ini adalah kali pertama ia harus menyatakan perasaan hatinya pada seorang wanita. Robi berdua, bersama Ibu, mengunjungi kediaman dia. Keringat dingin disertai gemetar semakin hadir menyerang tubuh Robi.
“Tapi, bolehkan aku meminta waktu tiga bulan saja untuk aku memantapkan dan meyakinkan keputusan ini.” Perempuan itu memohonkan sebuah permintaan setelah Robi menyatakan perasaan dan menyampaikan niat baiknya untuk menikahi. Terlihat mimik sedikit kecewa di wajah Robi. Namun setidaknya, ia merasa lega karena perasaan yang mengganjal itu telah terungkapkan.
***
Ternyata, Robi masih belum sepenuhnya tenang melewati hari-harinya. Seminggu, sebulan, dua bulan, sampai menginjak awal bulan ketiga, wanita itu belum juga memberi keputusan. Lebih sesaknya, wanita itu malah memutuskan untuk berhenti kerja di perusahaan Robi karena sebuah alasan yang tidak jelas. Resah semakin membanjiri ruang hati Robi.
Hingga akhirnya tepat menginjak minggu terakhir di bulan ketiga, ada sebuah e-mail masuk di laptop Robi.
“Assalamu’alaikum.
Mas Robi, sebelumnya aku mohon maaf karena telah membuat Mas Robi menunggu lama.
Langsung saja, soal pernikahan itu. Entah mengapa aku tidak menemukan keyakinan. sudah berkali-kali aku sholat istikharah, sudah berkali-kali aku meyakinkan diri sendiri, tapi hati ini terasa sangat menolak.
Aku, aku... Sebenarnya aku telah lebih dulu jatuh hati pada seseorang lain...”
DEG!
Belum sempat membaca sampai selesai, tubuhnya langsung lemas.
“Sebenarnya aku telah lebih dulu jatuh hati pada seseorang lain.” bibirnya mengucap ulang kalimat itu dengan tanpa tenaga.

“... Maafkan aku. Aku benar-benar mohon maaf sebesar-besarnya.
Wassalamualaikum.”

Kata demi kata dalam surel itu bagaikan sambaran petir yang menghantam hati. Menusuk-nusuk matanya saat membaca. Meretakkan hati Robi. Memecahkan suasana yang sangat dinantikan ini. Mengguncangkan perasaan yang telah tertanam.
Wanita itu. Yang saat ini sedang dinanti. Yang belakangan ini selalu menghantui, ternyata tak memiliki rasa yang sama. Hancur memang. Cinta pertama berbalaskan perih.
“J, jadi, wanita yang Kakak maksud itu...”
PRANKKKKK
 Dadanya langsung sesak. Reza tak mampu melanjutkan membaca email yang Robi tunjukkan. Mimpi buruk macam apa ini?  Dia yang selalu ada di hati Reza rupanya perempuan yang Kakaknya cintai. Reza tak bisa berfikir apa-apa lagi. Perasaannya berantakan.
“Entah apakah harus bahagia atau terluka dengan semua ini? Yang jelas, hatikku benar-benar hancur berkeping-keping”
Reza memang telah jatuh hati sejak pertama kali melihat wanita itu di depan masjid. Bahkan mulai sejak itu, perasaannya semakin hari semakin tumbuh.
Tapi, Reza memilih mengubur perasaan itu. Seketika aliran darahnya seperti ikut terhenti ketika harus menerima kenyataan pahit ini.
***
“Setiap insan yang dilahirkan ke dunia, masing-masing telah memiliki garis takdirnya tersendiri. Tak lepas perihal jodoh. Allah telah menyiapkan pasangan untuk masing-masing dari hambanya. Allah telah menuliskan jodoh yang tentunya pilihan terbaik untuk Robi maupun Reza. Mungkin dia bukan jodoh kalian. Atau mungkin juga dia jodoh dari salah satu di antara kalian. Bisa Robi bisa juga Reza, kita tidak tahu. Tapi yang jelas, jodoh itu cerminan diri. Kalian harus ingat, yang baik hanya untuk yang baik, begitu pun yang buruk untuk yang buruk pula.  Sebagai hamba Allah, kita hanya bisa berikhtiar terus perbaiki diri. Kalo tidak, ya jangan harap dapat yang baik. Anak Ibu tentunya harus jadi anak yang baik, biar jodohnya juga setara, keturunannya baik, segalanya jadi baik. Nah, kalian harus hadapi ujian ini dengan sabar, ambil hikmahnya. Mending kalian berlomba-lomba dalam kebaikan. Terus dan terus selalu melakukan perbaikan diri, niatkan lillahita’ala.”
Kedua kakak beradik itu sangat menghayati kata demi kata yang keluar dari mulut Ibu. Mereka benar-benar menyadari betapa selama ini masih jauh dari kata baik. Air mata perlahan jatuh tanpa dirasa.
Pada awalnya, Robi benar-benar terpuruk. Reza juga merasa sangat tersiksa. Akan tetapi, tak membuat keduanya saling membenci. Mereka menyadari, skenario Allah ternyata benar-benar luar biasa. Rasanya sangat konyol jika harus saling membenci hanya karena seorang perempuan yang tak tentu ia apakah jodoh atau bukan. Tidak ada permusuhan di antara mereka..
Kembali seperti semula, Robi sudah mulai terbiasa menjalankan aktivitasnya tanpa ada gangguan bayangan wanita itu lagi. Untuk saat ini, Robi sedang tidak ingin memikirkan perihal jodoh. Ia sedang terfokuskan untuk mengejar cinta-Nya. Ibadah semakin ia tingkatkan. Urusan agama selalu ia jadikan nomor satu.
Semakin hari semakin terlihat perubahannya. Nampaknya Robi benar-benar ingin lebih dekat kepada Allah.  Diamnya dipenuhi dzikir. Puasa menjadi semakin sering ia laksanakan. Kajian di masjid menjadi aktivitas rutin yang tak pernah terlewatkan. Solat malam menjadi jadwal harian yang tak pernah putus. Sepertiga malam menjadi waktu terdekatnya dia dengan Tuhan. Air matanya ia tumpahkan dikala itu.
Melihat Kakaknya yang begitu berubah, membuat Reza tak ingin kalah untuk mendekatkan diri juga kepada Allah. Reza semakin terdorong untuk melakukan hal-hal yang Robi kerjakan kini. Perubahan Robi nampaknya menular pada Reza, sang adik. Sesekali, sering Reza mencari tahu apa saja yang dilakukan Robi di kamar, tanpa sepengetahuan Kakaknya. Hal itu dilakukan hanya untuk Reza tiru aktivitasnya. Sering juga Reza mengunjungi Robi di kantor yang sebenarnya hanya ingin tahu apa yang kakaknya lakukan selain mengerjakan pekerjaan kantor. Rupanya, banyak yang Reza dapatkan. Robi selalu membaca Al-Quran di waktu luangnya. Robi juga selalu murotal atau mendengarkan ayar suci Al-quran. Reza langsung menerapkan itu dalam dirinya. Begitu luar biasanya Reza tak ingin kalah dalam semangat beribadah.
Niat yang awalnya termotivasi karena jodoh, kini telah menjadi kebiasaan yang ikhlas lillahita’ala.  Hidup mereka selalu dipenuhi kedekatan diri kepada Allah. Robi dan Reza selalu berlomba-lomba dalam kebaikan.
 “Bu, Robi pamit, mau ada kajian di masjid. Za, jaga Ibu baik-baik”
“Yaampun kak, mau pergi kajian aja diminta jagain Ibu segala, kayak apa aja.”
“Ya sudah, Robi berangkat. Assalamualaikum.” Tangannya lalu meraih tangan Ibu juga Reza, memberi salam.  Langkah sucinya kemudian meninggalkan rumah itu untuk pergi ke tempat mulia.
Melihat apa yang dilakukan sang kakak, Reza akhirnya memilih pergi juga ke acara kajian di kampung sebelah. Lagi-lagi ia tak mau kalah. Reza ingin menambah wawasan agama dengan menghadiri dan mendengarkan tausiyah di masjid seperti Kakaknya.
***
Entah mengapa terjadi, langit pagi yang begitu cerah tiba-tiba saja menjatuhkan air dengan deras tanpa aba-aba. Lampu semesta seketika meredup. Awan menggumpal menutupi birunya langit. Tak ada gerimis. Tak ada tanda akan turun hujan. Mendung disertai air langit datang bersamaan. Namun tak ada petir yang memekik. Hujan ini sangat sendu. Langit sedang menangis.
Bunga-bunga terkulai lemas. Pohon tak berenergi. Ada satu daun yang jatuh di sana. Gugur. Sirine menjadi melodi pengiring duka hari ini. Duka? Ya, duka. Ibu terkejut sirine itu mendekat pada rumahnya..
“KAKAAAK!” Teriakan itu hanya berbalas bisu. Ada senyum yang terselip di sana. Senyum tak bernyawa. Hati Reza tak lagi utuh. Sahabat sejak kecil, teman dalam hidup, sosok yang sangat berarti, kini, telah tiada. Separuh jiwanya pergi. Kecelakaan telah menghantam tubuh itu. Robi... berpulangkan jasad.
Kompetisi itu telah usai bagi Robi. Betapa ia telah menamatkan hidupnya dengan syahid. Pagi ini, tepat ketika dia hendak menyebrang menuju masjid, sebuah kendaraan telah merenggut nyawa Robi. Kebaikan-kebaikan yang ia lakukan selama ini telah menjadi penutup episode hidupnya. Robi ditakdirkan untuk lebih dulu berjumpa kematian daripada jodoh. Tak ada takdir yang mesti dibenci.
Hidup bukan hanya perkara jodoh. Persinggahan di bumi hanyalah untuk mencari bekal menuju akhirat. Terus dan terus perbaiki diri, hingga Tuhan menghentikan itu.
Belum berakhir bagi Reza, ia masih terus menyambung nafasnya dengan beribu kebaikan yang tentunya harus semakin meningkat. Pertemuan Reza dengan Robi tak boleh terhenti hanya sampai sini. Kelak, di sana, mereka harus bertemu lagi. Dua bersaudara yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan.
Selesai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bolehkah kau bersamaku?